and the story goes on..

this is about my life and what i'm thinking about..
Tampilkan postingan dengan label Anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Anak. Tampilkan semua postingan

Rabu, 24 Juli 2013

HOW TO WEANING YOUR BABY


CARA YANG DIANJURKAN


Penyapihan alami/natural (child led weaning)
Inilah cara yang terbaik karena tidak memaksa dan mengikuti tahap perkembangan anak. Tiap anak sebetulnya memiliki tahapan perkembangan alami yang menandai ia siap untuk disapih. Contoh, ketika giginya mulai tumbuh dan sistem pencernaannya sudah terbentuk baik biasanya anak mulai bisa menikmati makanan padat, bukan lagi ASI. Dengan begitu ia pun mulai belajar secara natural untuk meninggalkan ASI.
Sayangnya cara alami sering tak dipahami orang tua sehingga momentum yang baik ini malah diabaikan. Sering, kan, acara makan bagi anak tidak diupayakan menyenangkan. Makanannya juga tidak disajikan secara menarik, tidak variatif, serta rasanya mungkin kurang enak. Dari situ, akan timbul kesan negatif terhadap aktivitas makan. Jadi sebaiknya, manfaatkan jadwal makan anak untuk memberikan perhatian dan gizi yang baik. Dengan demikian, kelekatan emosional ibu-anak yang tadinya terfasilitasi di saat menyusui dapat terimbangi dengan aktivitas lain sesuai tahap perkembagan di usia batita.


CARA-CARA MENYAPIH INI BOLEH DILAKUKAN ASAL…

1. Memberi makan dan minum agar anak selalu kenyang sehingga lupa pada ASI
Cara ini boleh saja dilakukan untuk menyapih, tetapi harus secara perlahan. Selain itu, afeksi yang terjalin ketika ibu menyusui juga harus digantikan dengan sentuhan lain agar tetap terjaga hubungan kelekatan antara ibu dan anak. Jika kedua hal ini tak dilakukan, ditakutkan anak merasa ditolak.
Pada anak yang sudah mengerti jika diajak berbicara, ibu dapat memberikan penjelasan kepadanya. Katakan bahwa sudah saatnya ia makan makanan lain atau minum susu selain ASI, tapi ibu tetap sayang padanya.

2. Memberi empeng atau dot sebagai pengganti puting
Yang penting afeksi dari ibu bisa tetap terjaga dengan cara yang lain. Hanya saja, empeng atau dot bisa menciptakan ketergantungan baru sehingga memengaruhi struktur gigi-geligi anak. Jadi, bila ada cara lain yang lebih baik, hendaknya cara ini tak digunakan.

3. Menjarang-jarangkan waktu pemberian ASI
Jika tadinya pemberian ASI dilakukan kapan saja anak mau, maka untuk menyapihnya perjarang pemberian menjadi misalnya 3 kali sehari. Lalu beberapa minggu kemudian menjadi 2 kali sehari dan 1 kali sehari hingga berhenti sama sekali.
Hal ini boleh saja dilakukan karena mengikuti prinsip gradual weaning (menyapih secara bertahap). Maksudnya, anak disiapkan terlebih dahulu, sehingga ketika usianya genap 2 tahun, anak sudah siap tak mendapatkan ASI lagi. Biasanya cara ini dilakukan ketika anak mulai memasuki usia 1 tahunan. Di waktu-waktu biasanya anak mendapatkan ASI, kini diganti dengan susu formula dalam gelas dan makanan padat.
Yang penting, pengurangan frekuensi pemberian ASI tidak membuat anak kaget. Termasuk dalam cara bertahap ini adalah menyapih sebagian (partial weaning). Contoh, si batita disapih waktu malam saja atau waktu siang saja.

4. Memberikan penjelasan kepada anak, setelah itu tak sekalipun memberikan ASI lagi
Cara menyapih seperti ini bisa dilakukan jika usia anak sudah mencapai 2 tahun. Akan tetapi, tidak memberikan ASI sama sekali sebagai pertanda ketegasan ibu sama saja dengan menyapih secara mendadak (abrupt weaning).Dampaknya tetap negatif jika penjelasan ibu tidak bisa diterima; anak merasa ditolak oleh ibunya.
Apalagi jika sebelumnya tak ada pengondisian atau persiapan untuk anak terlebih dulu. Biasanya terjadi saat ibu memutuskan kembali bekerja karena merasa anak sudah cukup besar, ibu sakit sehingga tak boleh menyusui, ibu hamil lagi, atau produksi ASI berkurang drastis oleh karena satu dan lain hal.
Oleh karena itu, jelaskan pada anak alasan masuk akal mengapa harus berhenti menyusu pada ibu. Apakah karena usianya yang sudah mencapai 2 tahun atau karena kondisi ibu memang tidak memungkinkan sehingga harus berhenti menyusui secara mendadak.


JANGAN MENYAPIH BILA…

Penting diperhatikan, penyapihan hendaknya tidak dilakukan bila anak sedang mengalami suatu perubahan. Umpama, sedang tumbuh gigi, keluarga baru pindah rumah, atau si kecil baru saja masuk kelompok bermain. Dalam periode itu anak sedang perlu waktu untuk beradaptasi. Beradaptasi terhadap satu perubahan saja sudah sulit, apalagi jika ditambah dengan penyapihan. Terlebih lagi penyapihan melibatkan ikatan emosional ibu dan anak.

YANG JUGA PERLU DIPERHATIKAN

Saat mulai minum susu formula, ajari anak untuk menggunakan mug (cangkir), bukan dengan botol dot. Tujuannya agar secara perlahan-lahan anak tidak bergantung lagi pada puting susu ibunya. Dengan pengondisian ini, anak juga belajar bahwa puting susu ibu bukan satu-satunya alat untuk memperoleh susu.
Tentunya sambil melakukan cara-cara tersebut, ibu tetap harus menunjukkan afeksinya terhadap anak. Antara lain dengan memberikan sentuhan pada anak, semisal mengusap-usap rambutnya atau memeluknya. Namun caranya memeluk jangan seperti sedang memberikan ASI, melainkan peluklah dalam posisi yang lain.
Jika anak sudah bisa diajak bicara, berilah penjelasan. Contoh, “Kamu sekarang sudah besar. Kamu perlu makanan lain selain ASI.” Tekankan juga bahwa tidak minum ASI bukan berarti ibu tidak sayang lagi.

KENDALA DARI PIHAK IBU

Tak jarang terjadi, kendala penyapihan datang justru dari ibu sendiri. Ia tak bersedia menyapih anaknya karena ada ikatan/ketergantungan emosional yang kuat dengan anak. Kondisi ini bisa terjadi jika ibu terlalu menikmati perannya sebagai sosok yang memberikan ASI kepada anak. Bisa juga dipengaruhi oleh perasaan dibutuhkan bahwa dirinyalah yang dapat membuat anaknya tumbuh dan berkembang melalui ASI yang diberikan.
Tentunya hal ini tak dapat dibiarkan lebih lama, khususnya setelah anak mencapai usia dua tahun. Karena jika ASI terus diberikan, bisa menimbulkan ketergantungan emosional yang kurang sehat antara ibu dan anak. Hal ini akan berdampak negatif terhadap perkembangan psikis anak. Si kecil dapat mengembangkan kepribadian dependen atau tidak mandiri, yang selanjutnya mengarah kepada permasalahan-permasalahan emosional lain.

Gazali Solahuddin.

Narasumber:
Ester Lianawati, Psi.,
dosen pada Fakultas Psikologi UKRIDA dan psikolog di Personal Growth


Rabu, 10 Juli 2013

How to made

Ini cara membuat roti gulung isi sayur

Cara membuat tepung beras buat stok makanan bayi 6bulan

Cara mengukus praktis (buat yang ga punya kukusan)

Kamis, 30 Mei 2013

Menu Bekal Chila




Salmon Goreng + Sup Sayuran

 
Sup Ceker + Nugget Ayam
Sayur Bening (sawi, jagung, tauge) + tempe goreng

Selasa, 21 Mei 2013

Nasi Gulung Isi Sosis

Nasi Gulung Isi Sosis

Bahan: 
- 400 g nasi putih (sesuaikan dengan jumlah sosis) 
- 2 butir telur ayam, dadar jadikan dua masing-masing diameter 15 cm.
- 2 batang sosis, digoreng (rasa sesuai selera, ayam atau sapi) 
- ½ sendok teh garam. 

Cara membuat:
- Letakkan selembar telur dadar di atas penggulung sushi atau kertas minyak. 
- Bubuhkan nasi di atas telur dadar, ratakan dan lebarkan, ketebalan nasi 1-2 cm.
- Taruh sosis di atas tumpukan telur dan nasi yang sudah diratakan tadi. 
- Gulung penggulung sushi itu secara perlahan sampai nasi dan telur menutupi semua bagian dari sosis. Padatkan.
- Potong-potong nasi gulung itu setebal 2 cm. 
- Susun nasi gulung dalam tempat bekal, lengkapi dengan potongan sayur sesuai selera si Kecil. 


Senin, 29 April 2013

komunikasi dalam pengasuhan anak (by: Ibu Elly Risman)


poin penting mengenai komunikasi dalam pengasuhan anak:

  • Kita tidak siap jadi orangtua karena tidak menguasai tahap perkembangan anak dan bagaimana cara otak bekerja. Ketidaksiapan ini berpengaruh pada kepribadian dan masa depan anak.
  • Berkomunikasi dengan anak laki-laki beda dengan anak perempuan. Anak laki-laki tidak bisa diberi nasihat panjang-panjang, maksimal 15 kata dalam 1 kalimat.
  • Verbal abuse biasanya terjadi secara tidak sengaja, tetapi ini dapat merusak jiwa anak dan efeknya jangka panjang.
  • Bicara tidak sengaja pada anak akan melemahkan konsep diri, sulit diajak kerja sama, menjatuhkan harga diri, dll.
  • Kekeliruan dalam Berkomunikasi:
    • Bicara tergesa-gesa
    • Tidak kenal diri sendiri
    • Lupa bahwa setiap individu unik
    • Tidak bisa membedakan kebutuhan & keinginan
    • Tidak membaca bahasa tubuh
    • Tidak mendengar perasaan
    • Kurang mendengar aktif
    • Menggunakan 12 gaya populer
    • Tidak memisahkan masalah siapa
    • Selalu menyampaikan “pesan kamu”
  • Dua belas gaya populer dalam pengasuhan: Memerintah, Menyalahkan, Meremehkan, Membandingkan, Mencap, Mengancam, Menasihati, Membohongi, Menghibur, Mengkritik, Menyindir, Menganalisa.
  • Memberi cap/label pada anak tidak tampak secara fisik tapi akan menempel di jiwanya
  • Jangan menasihati orang di saat perasaannya sedang bermasalah, karena tidak akan masuk. Contohnya: saat anak jatuh dan menangis karena sakit, jangan diberi nasihat tapi beri empati pada rasa sakitnya.
  • Membohongi anak akan membuat jiwanya terguncang. Contoh: anak terluka dan menangis karena sakit lalu kita bilang “sakit sedikit besok juga sembuh”. Saat esok masih sakit maka kita sudah berbohong di mata anak. Lebih baik beri pengertian bahwa selama proses penyembuhan akan terasa sakit dalam beberapa hari.
  • Kiat meningkatkan komunikasi:
  1. Baca bahasa tubuh
  2. Dengarkan perasaan
  3. Mendengar aktif
  4. Hindari 12 gaya populer
  5. Tentukan masalah siapa
  6. Jangan bicara tergesa-gesa
  7. Kenali diri sendiri dan lawan bicara
  8. Ingat setiap individu unik
  9. Pahami bahwa kebutuhan dan keinginan berbeda
  10. Sampaikan “pesan saya”
  • Komunikasi itu 55% bahasa tubuh, 38% nada suara, 7% kata-kata. Bahasa tubuh lebih nyaring bunyinya daripada kata-kata.
  • Saat perasaan anak sedang bermasalah, berikan “got” untuk mengalirkannya. Pancing dengan kata-kata perasaan “capek ya”, “bete donk ya”, dll . Jangan dulu pakai kata logika “kenapa”, “benci sama siapa”, dll, atau minimal pakai kata-kata netral seperti “ooo”, “hmm”, dll.
  • Emosi anak harus dialirkan, jika tidak akan menumpuk, yang sewaktu-waktu bisa meledak dan dialirkan ke tempat yang salah seperti narkoba, pornografi, seks bebas, dll.
  • Jika anak pulang sekolah dengan wajah kusut, maka tipsnya baca bahasa tubuhnya, tebak perasaannya, dan sediakan “got” serta jadilah pendengar yang aktif hingga habis emosinya.
  • Tentukan masalah siapa, orangtua atau anak? Hal ini penting agar kita bisa memilah kapan saatnya anak harus dibantu, kapan harus diberi kepercayaan untuk menyelesaikan sendiri. Contoh: anak pakai baju tidak serasi, masalah ortu atau anak?
  • Menghargai kemampuan anak untuk memilih jauh lebih penting daripada memaksakan pilihan kita pada anak.
  • Saat anak diberi pilihan dan berpikir, otaknya aktif. Namun saat dibentak, informasi hanya akan berhenti di batang otak.
  • Agar anak mandiri dan bertanggung jawab, anak perlu Berpikir, Memilih, dan Mengambil Keputusan.
  • Agar orang tua tidak tergesa-gesa dalam berkomunikasi biasakan membuat rencana. Libatkan anak dalam membuat rencana, contohnya membuat daftar menu untuk minggu depan. Hal ini membantu ibu untuk tidak hectic di pagi hari dan bisa berkomunikasi dengan baik pada semua anggota keluarga.
  • Marah pada anak tentu boleh jika memang diperlukan. Mulailah selalu dengan “pesan saya”, formatnya “saya merasa…. (kata perasaan), kalau kamu… karena….”
  • “Pesan saya” membuat fokus perasaan ada di “saya” bukan men-judge “kamu”. Selain itu anak juga jadi tahu poin apa yang membuat orangtua marah, tidak bias ke sana-kemari dengan masalah lain.