and the story goes on..

this is about my life and what i'm thinking about..

Rabu, 06 Oktober 2021

AWKWARD MOMENT 2021

 ok, i just notice that this blogspot still alive.. randomly i check! :D


this morning, i went to get breakfast with my husband. this is our first time to go to this place. when our meals were served, someone took my attention. at first i notice him as my old friend from Junior High School, but then i realize that it is somebody else from my past.. someone that ever getting closed to me, Dayan.

he came with his little family. that coincidentally was Ayu's in law family from her brother. 

anyway, it become awkward, i think he knows me, but we try not to recognize each other. and that's fine. somehow, we have some bad memories about our past when we were together. and now we already move to the better one. 

we have no memories that we want to memorize it anymore. it was so shameful and disgusting.

but to met someone from my past is so cheering my day up. i am happy, not because it was him, but whoever it was.


Thank you Thursday :)

Minggu, 22 Februari 2015

R. I. N. D. U

Entah untuk yang ke berapa kalinya sudah rasa rindu ini menghinggapi pikiran.
Tidak, aku tidak sedang merindukan orang lain.
Aku merindukan diri ku yang dulu, yang masih sendiri, yang tanpa tanggung jawab, yang bisa bebas kemana saja kapan saja tanpa batasan.

Sungguh aku rindu.
Setiap kali diriku memandang foto diri di masa lalu, ada rasa rindu ingin memiliki masa itu lagi.

Entahlah apa yang terjadi dalam hidupku kini. Yang pasti, semua tidak semulus yang dibayangkan dahulu. Banyak yang belum tercapai, meski kami sudah lelah dan jenuh berusaha menggapai apa yang kami inginkan.

Kamis, 31 Juli 2014

Saat Hati Lumpuhkan Kata

Mungkin terlalu lelah, hingga bibir pun tak lagi mampu berkata kata.
Kita hanya mampu diam saat sejuta cacian sibuk melintasi pikiran. Menunggu saatnya meledak lalu merusak segala kedamaian yang ada.

Ah ada apa dengan kita?
Kemana semua kesempurnaan yang kita miliki dulu.

Ingat saat dulu kita selalu berbagi resah dan gundah bersama sama
Bercerita tentang apa yang kita alami hari itu dengan semangat yang menggebu
Tertawa lepas saat salah satu dari kita bercanda lucu

Tidak pernah terbayangkan akan ada airmata sedih di pipi
Tidak pernah pula terpikirkan akan ada hati yang merasa kesepian meski kita sedang bersama

Semuanya itu kini berganti dengan wajah tegang
Jangankan untuk tertawa lepas, tersenyum pun kini rasanya sungguh melelahkan
Hati ini pun rasanya hampa
Seperti tidak ada kebahagian yang tercipta.

*berharap semua hanya sementara dan kita kembali seperti remaja yang sedang kasmaran*

Kamis, 17 Juli 2014

Kata hati

Lagi kesal nih. Sepupu2 chila ngajakin chila maen mercon di mlm ramadhan. Padahal aq dan suami ud wanti2 klo ntar pas mlm lebaran kami akan ngajak anak2 maen ke prada demi menghindari budaya maen mercon. Eh belom pun mlm lebaran, itu mercon udah dimaenin ama anak2 tetangga yg notabene nya sepupu2 chila. Kesal setengah mati rasanya.
Tadinya chila lg anteng nobton kartun ama aq. Eh itu sepupu si chila malah manggil ngajakin chila maen. Sebel ga? Rasanya mau teriak dimuka tu anak n ortunya klo kehidupan kami berbeda ama mereka.
Tapi aq g mungkin ngelarang chila maen ma mereka. Apalagi dy langsung antusias sekali pas dipanggil maen diluar.

Ohya kenapa aq dan suami ngehindari chila maen mercon, kami ga mau klo maen mercon disaat mlm lebaran dan atau tahun baru itu menjadi budaya keluarga kami.
Selain itu, takutnya ntar chila jadi ketagihan n terus minta2 dibeliin mercon dilaen hari.. Biasanya sih begitu.

Anakku sayaaaang... Semoga yang bunda dan ayah khawatirkan ga terjadi ya.
Mungkin aq cuma parno aja, ntahlah.

Minggu, 13 Juli 2014

Something to Say

ok. sepertinya ada yang salah dengan pola asuh. she become someone i dont like. neither do i.. huhuhu... ini menyakitkan. seabrek artikel parenting yang udah dibaca selama ini seakan ilang dalam ingatan. sekarang malah nerapin hal2 yang dari dulu dihindari. 
What happen to me? what happen to us?
apa kami yang terlalu stress bekerja, sampe2 ga punya waktu untuk merhatiin chila? tapi rasanya semua berjalan sama seperti dulu. rasanya ga ada waktu yang berkurang buat Chila. 
aq patah hati. semoga segera mendapatkan solusi untuk mengembalikan Chila ku yang dulu Manis... :)

Rabu, 04 September 2013

Antara Wanita, Ilmu, dan Anak


Ko bisa ya hari gini saya masih mendengar ucapan “ngapain perempuan sekolah tinggi-tinggi atau pinter-pinter kalau ujung2nya CUMA ngurus anak doang.”
Saya tidak akan berbicara mengenai “ibu bekerja” atau “ibu rumah tangga” ya, karena saya sangat menghormati setiap pilihan dan paham bahwa setiap pribadi punya alasan & kondisi masing2 yg memengaruhi pilihannya.
Tapi semoga tidak terlupa bahwa mengurus anak itu bukanlah sebuah CUMA. Mengurus di sini dalam arti cakupan luas : memberi makan, memperhatikan kesehatan, mendidik, menyayangi, melindungi, memberi rasa aman, mendampingi pertumbuhan lahir batinnya.
Jangan lupa bahwa anak itu adalah MANUSIA. Setiap manusia itu UNIK, dengan karakternya masing-masing. Cara mendidik dan menanamkan nilai pada mereka pun unik dan Ibu adalah orang yang harus jd yg paling mengerti akan hal itu.
Well, saya memang belum pernah merasakan mengurus anak. Tapi saya adalah seorang anak yang diurus oleh seorang Ibu. Ibu yang bekerja sebagai seorang bidan yang luar biasa sibuk. Kadang dines pagi, siang, malem. Tapi beliau tetap bisa “memenuhi tangki kasih sayang anak-anaknya”. Dan belakangan saya tahu, itu karena mamah saya selalu belajar dan belajar.
Saya juga pengalaman membantu kakak dan mengamati kakak2
mengurus keponakan saya dan pernah mengajar privat di rumah untuk berbagai anak dengan karakter berbeda (ada yang brutal, pemberontak, penurut, rajin). Saya mengamati dan menyimak lalu saya jadi paham dan terbelalak dengan kenyataan bahwa mengurus dan mendidik anak itu membutuhkan kecerdasan, keuletan, dan kesabaran tingkat tinggi.
Seorang ibu harus cerdas, mengerti tantangan jaman kehidupan anaknya kelak, memiliki banyak pengetahuan dan jadi FILTERuntuk informasi yg ditangkap anaknya.
Helloo, jaman sekarang adalah jamannya teknologi. Jamannya informasi sangat mudah didapat. Kabar baiknya adalah informasi mudah didapat, banyak sarana belajar dan mencari ilmu untuk orangtua dan anak.
Tapi kabar buruknya, orang tua harus mati-matian berusaha melindungi anak dari informasi yang negatif dan belum waktunya. Dan kabar buruknya lagi, semua itu bukanlah sebuah CUMA dan hanya bisa diperoleh dengan belajar, tanggap informasi, dan menuntut ilmu.
Ngomong-ngomong tentang menuntut ilmu, ilmu itu ga hanya dari sekolah formal seperti yg dimaksud “tinggi-tinggi” itu ya. Buku, seminar, training, workshop, hasil mengamati  pengalaman orang lain, internet, komunitas, semua adalah sarana belajar dan Alhamdulillaah banyak banget sarana belajar saat ini.
Lalu apakah seorang Ibu harus sekolah tinggi-tinggi? Well, kalau bisa, mampu, dan mau, kenapa tidak? Saya percaya tidak ada ilmu yang sia-sia. Walaupun bidang ilmu itu bertolak belakang dengan maternity things sekalipun. Bagaimanapun setiap orang punya misi penciptaan mereka masing-masing yang dimaksudkan oleh Allah. Manusia ga diciptakan hanya untuk menuh-menuhin bumi ini kan..? Pasti ada tujuannya. Dan mungkin tujuan itu bisa dicapai dengan bersekolah dan menuntut ilmu formal sebagai salah satu bentuk ikhtiar untuk jadi expert di bidangnya yang merupakan “berlian diri” atau passion dari insan yang bersangkutan.
Selain itu, saya yang lulusan Biologi tapi bekerja di ranah marketing ini sangat merasakan bahwa walaupun secara materi bertolak belakang, sangat banyak hal yg saya peroleh dari kuliah saya selama S1, terutama dari pola pikir, cara memandang suatu masalah, problem solving, networking, organisasi, kemandirian, dan keuletan. Saat ini saya sadar saya memiliki minat besar di salah satu bidang dan merasa ilmu selama S1 tidak cukup. Saya harus belajar lagi untuk bisa memberikan lebih banyak manfaat.
Tapi apakah berarti kalau kuliah di satu bidang itu lantas kita hanya mendapatkan materi-materi terkait bidang tersebut? Tentu tidak, bukan? Banyak hal yang bisa dipelajari jika kita bisa berpikir lebih terbuka. Dan pikiran yang terbuka bukan proses instan, ia adalah proses bertahap yang mungkin terakumulasi selama proses pendidikan dari kecil hingga besar.
Lantas, apakah mereka yang tak sampai tingkat pendidikan tinggi tak bisa jadi Ibu yang baik? Siapa bilang? Sekali lagi, belajar itu bisa dari mana saja. Bukan masalah tingkat pendidikannya juga, yang terpenting adalah otot belajar seorang wanita yang harus terus dilatih dan terus haus akan ilmu. Ilmu bukan hanya di kuliah. Ilmu tertebar di seluruh penjuru bumi :)
Jadi, mari bersiap menimba ilmu lebih banyak dari mana saja untuk berkeluarga dan pengasuhan anak ini . Merasa masih terlalu dini? Santai aja, ga akan rugi..malah bisa makin banyak kan ketika kelak siap diaplikasikan? :)
Kembali ke mengurus anak, “mengurus anak itu bukan ‘cuma’. Banyak yang harus orang tua (terutama Ibu) pahami,  mulai dari agama, kesehatan, kebutuhan spiritual, pendidikan, gizi, teknologi, komunikasi, psikologi, finansial. Wanita juga harus paham dan belajar untuk itu semua. Karena anak itu tanggung jawab orang tua penerus generasi, pembela agama kelak, dan investasi akhirat.
Saya pernah tersentil banget dengan ucapan Pak @noveldy. Beliau berkata,  “hampir semua orang bilang mereka berkarir untuk keluarga. Tapi, kalau dilihat, banyaknya ilmu dan lamanya waktu menempuh ilmu tentang agama, keluarga, pernikahan, atau pengasuhan anak jauh di bawah waktu yang digunakan menempuh pendidikan formal untuk berkarir (bisa mencapai 20 tahun). Lantas untuk berkeluarga dan mendidik anak yang pertanggungjawabannya kelak lebih berat, sudah sejauh apa menyiapkannya?yakin, sudah punya ilmunya?”
Apapun bidang yang ditekuni dalam jenjang pendidikan seorang wanita; belajar, sekolah, dan mencerdaskan diri bagi wanita ituperlu kalau dia ingin mencerdaskan anaknya apalagi menyiapkan anaknya menghadapi zaman yg semakin penuh fitnah dan godaan. Dimana semua terlihat abu-abu, kadang banyak yang merasa bingung mana yang salah dan mana yang benar.
Jadi, stop menganggap rendah kegiatan “mengurus anak” ya. Apalagi menganggap wanita tidak perlu sampai pintar kalau hanya ingin mengurus anak atau tidak berkarir.
Wanita tiang keluarga.
Wanita tiang negara.
Baiknya kualitas wanita, insya Allah baik pula kualitas bangsanya.
Wanita adalah madrasah pertama anak-anak.
Apapun sarananya : sekolah formal atau sarana menuntut ilmu lainnya, wanita harus senantiasa memperkaya diri dengan ilmu. Demi mencetak generasi yang kelak menjadi sebaik-baiknya manusia, yaitu manusia yang paling bermanfaat. Bagi Tuhan, agama, orangtua, bangsa, dan lingkungan di sekitarnya.
Wallaahu a’lam bishshawaab.
Semoga bermanfaat bagi kita semua, terutama para calon Ibu, pendidik para insan yang kelak memberatkan bobot bumi dengan ketaatan pada Sang Pencipta serta manfaat yang dia miliki.




Rabu, 14 Agustus 2013

Saat Mengeluh, Ingatlah Doa-Doa Yang Pernah Terucap

Ada seorang gadis buta yang membenci dirinya karena ia tak bisa melihat. Ia membenci semua orang termasuk kekasih yang setia mendampinginya. Ia berkata pada kekasihnya bahwa bila ia bisa melihat dunia, ia akan menikahi kekasihnya.

Suatu hari ia mendapatkan donor mata dan ia bisa melihat dunia yang begitu luas. Sang kekasihpun bertanya, "Kini setelah kau bisa melihat semuanya, maukah kau menikah denganku?"
Sang gadis melihat kekasihnya dan terkejut karena mengetahui kekasihnya buta. Ia pun menolak untuk menikahinya. Dengan patah hati, sang pria meninggalkan wanita itu dan beberapa hari kemudian mengirimkan surat yang mencengangkan bagi sang kekasih. "Tolong jaga baik-baik sepasang mataku yang kini jadi milikmu, Sayang."

Kisah di atas adalah sebuah gambaran mengenai perubahan dalam otak manusia ketika statusnya berubah. Banyak orang lupa dengan apa yang pernah mereka katakan dan siapa yang selalu ada di sisi mereka saat mereka sedang dalam masa yang sulit.

Kita selalu melantunkan doa-doa, namun juga menerimanya dengan syarat. Seperti sang gadis yang bisa melihat lagi, saat doanya terkabul, ia menelan ludahnya sendiri dan mengecewakan dia yang selalu ada di sampingnya.
Ibarat kita yang berdoa hingga jungkir balik agar mendapatkan jodoh. Namun setelah mendapatkan jodoh, kita menyia-nyiakan kebaikannya, mengeluh dia tak seperti ini atau seperti itu. Ada pula yang berdoa tengah malam agar rejeki lancar. Begitu, terkabulkan dan menjadi mapan, lupa untuk menggunakan dengan bijak. Malah mengeluh masih banyak hal yang belum bisa didapatkan.

Berapa kali kita mengemis lewat doa namun saat diberi kita seperti lupa siapa kita sebelumnya? Berapa kali kita memohon didekatkan jodohnya namun saat diberi malah menyakiti dan menyia-nyiakannya?
Hidup ini adalah anugerah atas doa-doa yang kita panjatkan dan perbuatan-perbuatan yang kita lakukan. Syukuri dan jagalah saat mereka datang. Tak ada hal yang sempurna, namun selalu ada hal yang terbaik yang dianugerahkan pada kita.